Protokol adalah sebuah aturan atau standar yang
mengatur atau mengijinkan terjadinya hubungan, komunikasi dan perpindahan data
informasi antara dua atau lebih komputer. Protokol mendefinisikan beberapa
fungsi yang ada dalam sebuah jaringan komputer, misalnya mengirim pesan, data,
informasi dan fungsi lain yang harus dipenuhi oleh sisi pengirim dan sisi
penerima agar komunikasi dapat berlangsung dengan benar, walaupun sistem yang
ada dalam jaringan tersebut berbeda sama sekali. Protokol ini mengurusi
berbagai hal mulai dari perbedaan format data pada kedua sistem hingga pada
masalah koneksi listrik.
Fungsi protokol secara detail
dapat dijelaskan berikut:
1) Fragmentasi dan
reassembly
Fungsi dari fragmentasi dan
reasembly adalah membagi informasi yang dikirim
menjadi beberapa paket data pada saat
sisi pengirim mengirimkan informasi dan setelah
diterima maka sisi penerima akan
menggabungkan lagi menjadi paket informasi yang lengkap.
2) Encaptulation
Fungsi dari encaptulation adalah melengkapi informasi
yang dikirimkan dengan address, kode-kode koreksi dan lain-lain.
3) Connection control
Fungsi dari Connection control
adalah membangun hubungan (connection) komunikasi
dari sisi pengirim dan sisi penerima,
dimana dalam membangun hubungan ini juga
termasuk dalam hal pengiriman data dan
mengakhiri hubungan.
4) Flow control
Berfungsi sebagai pengatur perjalanan data dari sisi
pengirim ke sisi penerima.
5) Error control
Dalam pengiriman data tak
lepas dari kesalahan, baik itu dalam proses
pengiriman maupun pada waktu data itu
diterima. Fungsi dari error control adalah
mengontrol terjadinya kesalahan yang terjadi
pada waktu data dikirimkan.
Salah satu protokol standar internasional adalah OSI (OpenSystem Interconnection). OSI dikeluarkan oleh lembaga ISO (InternationalStandars Organization ) di Eropa pada tahun 1977. Model referensi OSI
menggambarkan bagaimana data informasi di sebuah komputer berpindah melewati
sebuah media jaringan ke suatu komputer lain. Model ini disebut OSI (OpenSystem Interconnection) Reference Model karena model ini ditujukan
bagi pengkoneksian open system. Open System dapat diartikan
sebagai suatu sistem yang terbuka untuk berkomunikasi dengan sistem-sistem
lainnya.
Model OSI itu sendiri bukanlah merupakan arsitektur
jaringan, karena model ini tidak menjelaskan secara pasti layanan dan
protokolnya untuk digunakan pada setiap layernya. Model OSI hanya menjelaskan
tentang apa yang harus dikerjakan oleh sebuah layer. Akan tetapi ISO juga telah
membuat standar untuk semua layer, walaupun standar-standar ini bukan merupakan
model referensi itu sendiri. Setiap layer telah dinyatakan sebagai standar
internasional yang terpisah. Model OSI disusun atas 7 lapisan sebagai berikut,
disusun dari lapisan yang terendah sampai lapisan yang tertinggi:
- fisik (lapisan 1);
- data link (lapisan 2);
- network (lapisan 3);
- transport (lapisan 4);
- session (lapisan 5);
- presentasi (lapisan 6) dan
- aplikasi (lapisan 7).
![]() |
| 7 Layer OSI |
Ke tujuh lapisan dari model referensi OSI dapat dibagi
ke dalam dua kategori, yaitu lapisan atas (host layer) dan lapisan bawah (media
layer). Lapisan atas dari model OSI berurusan dengan persoalan aplikasi dan
pada umumnya diimplementasi hanya pada software. Lapisan tertinggi (lapisan
aplikasi) adalah lapisan penutup sebelum ke pengguna (user). Pengguna dan
lapisan aplikasi saling berinteraksi dengan software aplikasi yang berisi
sebuah komponen komunikasi. Lapisan bawah dari model OSI mengendalikan persoalan
transport data. Lapisan fisik dan lapisan data link diimplementasikan ke dalam
hardware dan software, sedangkan lapisan network pada umumnya hanya
diimplementasikan dalam software.
Sebelum munculnya model reference OSI, sistem jaringan
komputer menjadi beraneka ragam dan sangat tergantung kepada pemasok perangkat
jaringan (vendor), sehingga banyak perangkat memiliki protokol berbeda yang
tidak dapat saling berkomunikasi. OSI berupaya membentuk standar umum jaringan
komputer untuk menunjang interoperabilitas antara pemasok yang berbeda, agar
komunikasi berbagai perangkat jaringan yang berbeda tersebut dapat dilakukan.
Model referensi ini awalnya ditunjukan sebagai basis
untuk mengembangkan protokol-protokol jaringan, meski pada kenyataan inisiatif
ini mengalami kegagalan yang disebabkan oleh beberapa faktor berikut:
1) Standar model
referensi ini sangat berdekatan jika dibandingkan dengan model referensi DARPA
yang dikembangkan oleh lembaga Internet Engineering Task Force (IETF).
Model referensi DARPA adalah model basis protocol TCP/IP yang populer di
gunakan dan kini menjadi protokol bagi open system networking terbesar
didunia (Internet) .
2) Model referensi ini
dianggap sangat kompleks dan kurang efektif. Beberapa fungsi seperti halnya
metode komunikasi connectionless dianggap kurang bagus, sementara fungsi
lainnya seperti flow control dan koneksi kesalahan di ulang-ulang pada
beberapa barisan.
3) Pertumbuhan internet
dan protocol TCP/IP membuat model referensi OSI menjadi kurang diminati.
Pemerintah AS mencoba untuk mendukung model referensi
OSI dalam solusi jaringan pemerintah pada tahun 1980an. Dengan
mengimplementasikan beberapa standar yang disebut dengan Goverment Over
Systems Interconnection Profile (GOSIP) usaha ini akhirnya di tinggalkan
tahun 1955. Model referensi OSI pun akhirnya dilihat sebagai sebuah model ideal
dari koneksi logis yang harus terjadi agar komunikasi dalam jaringan dapat
berlangsung. Beberapa protocol yang digunakan dalam dunia nyata semacam TCP/IP,
DECNET dan IBM, System Network Architecture (SNA) memetakan tumpukan
protocol (protocol stack) mereka ke model referensi OSI. Model referensi
OSI pun digunakan sebagai titik awal untuk mempelajari bagaimana beberapa
protokol jaringan didalam sebuah kumpulan protokol dapat berfungsi dan
berinteraksi.
Dengan maksud agar jaringan tidak menjadi rumit,
protokol OSI dibagi menjadi beberapa Level/Layer/Lapisan. Susunan dari layer
ini menunjukan tahapan dalam melakukan komunikasi. Masing-masing layer memiliki
tujuan yang sama, yakni memberikan layanan kepada layer yang berada diatasnya.
Level/Layer/Lapisan OSI itu adalah sebagai berikut:
1) Physical Layer
(Lapisan Fisik)
Berfungsi untuk mendefinisikan media transmisi, metode
pensinyalan, sinkronisasi bit, arsitektur jaringan (seperti halnya Ethernet
/token ring), topologi jaringan dan pengkabelan. Selain itu, level ini juga
mendefinisikan bagaimana network interface card (NIC) dapat
berkomunikasi atau berinteraksi dengan media kabel atau nirkabel. Lapisan fisik
melakukan fungsi pengiriman dan penerimaan bit stream dalam medium fisik.
Hal-hal yang diatur oleh lapisan fisik, adalah:
- Karakteristik fisik dari media dan antarmuka.
- Representasi bit-bit. Maksudnya lapisan fisik harus mampu menterjemahkan bit 0 atau 1, juga termasuk pengkodean dan bagaimana mengganti sinyal 0 ke 1 atau sebaliknya.
- Data rate (laju data).
- Sinkronisasi bit.
- Line configuration (Konfigurasi saluran). Misalnya: point-topoint atau point-to-multipoint configuration.
- Topologi fisik. Misalnya: mesh, star, ring, bus.
- Mode transmisi. Misalnya :half-duplex, full-duplex, simplex.
2) Data Link Layer
(Lapisan Data Link)
Berfungsi untuk menentukan bagaimana bit-bit data di
kelompokan menjadi format yang disebut sebagai frame, pada level ini terjadi
koneksi kesalahan, flow control, pengamatan perangkat keras (seperti halnya media
acces control address (mac address) dan menentukan bagaimana
perangkat-perangkat jaringan seperti hub, brigde, repeater, dan switch layer 2
beroperasi. Spefikasi IEEE 80z, membagi level ini menjadi 2 level, yaitu
lapisan logic link control / (LLC) dan lapisan media acces control
(MAC). Lapisan data link berfungsi mentransformasi lapisan fisik yang merupakan
fasilitas transmisi data mentah menjadi link yang reliabel. Dalam lapisan ini
menjamin informasi bebas error untuk ke lapisan diatasnya.
Tanggung jawab utama lapisan data link ini adalah
sebagai berikut :
- Framing, yaitu membagi aliran bit (bit stream) yang diterima dari lapisan network menjadi unit-unit data yang disebut frame.
- Physical addressing. Jika frame-frame didistribusikan ke sistem lain pada jaringan, maka data link akan menambahkan sebuah header di muka frame untuk mendefinisikan pengirim dan/atau penerima.
- Flow control. Jika rate atau laju bit stream berlebih atau berkurang maka flow control akan melakukan tindakan yang menstabilkan laju bit.
- Error control. Data link menambah reliabilitas lapisan fisik dengan penambahan mekanisme deteksi dan retransmisi frame-frame yang gagal terkirim.
- Access control. Jika dua atau lebih perangkat (device) dikoneksi dalam link yang sama, lapisan data link perlu menentukan perangkat yang mana yang harus dikendalikan pada saat tertentu.
3) Network Layer
(Lapisan Network)
Berfungsi untuk mendefinisikan alamat-alamat IP,
membuat header untuk paket-paket dan kemudian melakukan routing melalui
internetworking dengan menggunakan router dan switch layer-3. Lapisan network
bertanggung jawab untuk pengiriman paket dengan konsep source-to-destination.
Tanggung jawab spesifik lapisan network ini adalah :
- Logical addressing. Bila pada lapisan data link diimplementasikan physical addressing untuk penangan pengalamatan/addressing secara lokal, maka pada lapisan network problematika addressing untuk lapisan network bisa mencakup lokal dan antar jaringan/network. Pada lapisan network ini logical address ditambahkan pada paket yang datang dari lapisan data link.
- Routing. Jaringan-jaringan yang saling terhubung sehingga membentuk internetwork diperlukan metoda routing/pe-rute-an. Sehingga paket dapat ditransfer dari satu perangkat yang berasal dari jaringan tertentu menuju perangkat lain pada jaringan yang lain.
4) Transport Layer
(Lapisan Transport)
Berfungsi untuk memecah data kedalam paket-paket data
serta memberikan nomor urut ke paket-paket tersebut sehingga dapat disusun
kembali pada sisi tujuan setelah diterima. Selain itu, level ini juga membuat
sebuah tanda bahwa paket di terima dengan sukses (unknown ledgement)
& menstranmisikan ulang terhadap paket-paket yang hilang ditengah jalan.
Pada intinya lapisan ini bertugas memastikan paket dihantar dengan benar.
Tanggung jawab spesifik lapisan transport ini adalah :
- Sevice-point addressing. Komputer sering menjalankan berbagai macam program atau aplikasi yang berlainan dalam saat bersamaan. Untuk itu dengan lapisan transport ini tidak hanya menangani pengiriman/delivery source-todestination dari Komputer yang satu ke komputer yang lain saja namun lebih spesifik kepada pengiriman jenis pesan (message) untuk aplikasi yang berlainan. Sehingga setiap pesan yang berlainan, aplikasi harus memiliki alamat (address) tersendiri lagi yang disebut service point address atau port address.
- Segmentation dan reassembly. Sebuah pesan (message) dibagi dalam segmen- segmen yang terkirim. Setiap segmen memiliki nomor urut (sequence number). Sequence number ini yang berguna bagi lapisan transport untuk merakit (reassembly) segmen-segman yang terpecah atau terbagi tadi menjadi message yang utuh.
- Connection control. Lapisan transport dapat berperilaku sebagai connectionless atau connection-oriented.
- Flow control. Seperti halnya lapisan data link, lapisan transport bertanggung jawab untuk kontrol aliran (flow control). Bedanya dengan flow control di lapisan data link adalah dilakukan untuk end-to-end.
- Error control. Sama fungsi tugasnya dengan error control di lapisan data link, juga berorientasi end-to-end.
5) Session Layer
(Lapisan Session)
Berfungsi untuk mendefinisikan bagaimana koneksi dapat
di buat, di pelihara/dihancurkan. Selain itu di level ini juga dilakukan
resolusi nama. Layanan yang diberikan oleh tiga layer pertama (fisik, data link
dan network) tidak cukup untuk beberapa proses. Maka pada lapisan session ini
dibutuhkan dialog controller.
Tanggung jawab spesifik :
- Dialog control.
- Sinkronisasi.
6) Presentation Layer
(Lapisan presentasi)
Berfungsi untuk menetralisasikan data yang hendak di
transmisikan oleh aplikasi kedalam format yang dapat ditransmisikan oleh
aplikasi kedalam format yang dapat ditransmisikan melalui jaringan. Protokol
yang berada dalam level ini adalah perangkat lunak redirector (redirector
software). Presentation layer lebih cenderung pada syntax dan
semantic pada pertukaran informasi dua sistem.
Tanggung jawab spesifik:
- Translasi.
- Enkripsi.
- Kompresi.
7) Application layer
(Lapisan aplikasi)
Berfungsi sebagai antar muka antara aplikasi dengan
fungsionalitas jaringan, mengatur bagaimana aplikasi dapat mengakses jaringan
dan kemudian membuat pesan-pesan kesalahan. Protocol yang berada dalam lapisan
ini adalah HTTP, FTP, SMTP, & NFS.
Daftar Istilah
- Jaringan kerja (network): Hubungan komunikasi satu sama lainnya antara dua atau lebih alat sehingga membentuk suatu sistem.
- Terminal: setiap titik dimana data dapat masuk atau keluar dari sistem.
- Crosstalk: sebuah fenomena dimana signal transmisi pada sebuah sirkuit atau saluran, menciptakan efek mengganggu terhadap signal transmisi pada sirkuit atau saluran lainnya.
- Noise signal: kesalahan pada signal berguna dalam mentransmisikan informasi yang diakibatkan gangguan acak dari suatu energi, baik energi natural ataupun buatan manusia
- Interferensi: interaksi antar gelombang di dalam suatu wilayah. Interferensi dapat bersifat membangun dan merusak. Bersifat membangun jika beda fase kedua gelombang sama sehingga gelombang baru yang terbentuk adalah penjumlahan dari kedua gelombang tersebut. Bersifat merusak jika beda fasenya adalah 180 derajat, sehingga kedua gelombang saling menghilangkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar